Membaca ini membuat ku air mataku mengalir, ya allah tetapkan aku dalam iman dan islam.......
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sekedar ingin berbagi apa yang menjDi harapan dan cita-cita hidup Izza......yg menjDi harapan dalam perjalanan hari kedepan terutama perjalanan pernikahan jika Allah mengijinkan. Tanpa maksud menampilkan Diri, semata-mata ini (insya allah) yang menjDi harapan dan visi hidup dan hanya Allah yang memegang hati kita.
Dulu ada pertanyaan menggelitik sekali bagi saya yang Ditanyakan Disebuah majelis, kira2 begini:
Jika kita melukiskan umat islam itu ibarat lingkaran besar yang berpusar (kira2 kayak papan panahan) kemuDian tiap lingkaran itu menggambarkan konDisi umat sesuai kafaah(kualitas) keberagamaannya atau kafaah(kualitas) keberislaman Dia, lingkaran terluar itu adalah org islam yang tidak mengenal islam, perumpamaan ini lah konDisi umat yang ibarat buih Di air, banyak tapi ga punya massa, ga punya kekuatan, seterusnya dari lingkaran terluar menggambarkan kualitas yang dangkal sampai bentukan lingkaran terdalam yang berupa titik, nah titik ini lah mungkin gambaran org islam yang berislam dengan totalitas. Pertanyaan yang menyudutkan DIMANAKAH POSISI ANDA??
Dari sini banyak evaluasi ke Diri saya, dengan waktu yang telah terlewati sampai Dititik sekarang berada, sudah demikian jauh perjalanan umur, apa yang telah saya perbuat?? Untuk apa dan kemana waktu telah saya habiskan?? Bagaimana dengan amalan? ibadah??. Berapa banyak salah dan khilaf, kelalaian dan kemalasan yang melenakan kita. Apa yang menjDi prioritas waktu saya?? Apa yang menjDi target hidup saya? Apa saya punya target utk akhirat/ukhrawi saya?? Apa saya pernah punya prioritas waktu untuk akhirat saya/ untuk ibadah saya??
Sungguh banyak hal yang mesti kita benahi dalam hidup, kekurangan di masa lalu mgkin tak bisa kita perbaiki selain hanya bertaubat dan dari waktu ke waktu belajar memperbaiki Diri, menata Diri. Untuk masa depan adalah menjDi tanggung jawab kita utk mengukir nya menjDi apa. Dan untuk perjalanan waktu ke depan, sebagian besar waktu hidup kita akan kita habiskan dalam sebuah pernikahan, dan amalan juga dosa dan kesalahan akan terukir Disini. sungguh sangat penting untuk merencanakan sebuah pernikahan yang berlandaskan pada cita-cita ukhrawi ini. Harapan saya, generasi yang lahir dari pernikahan saya, generasi anak2 saya adalah generasi yang lebih baik dari saya. Jika orang tua membesarkan kita dengan ke-awaman religi mereka, sudah menjDi keharusan bagi kita, generasi anak-anak kita mendapatkan yang lebih dari kita dapatkan. Meniatkan pernikahan sebagai ibadah, menjDikan pernikahan sebagai lahan yang kita ukir dengan nilai-nilai religi. Anak-anak kita adalah kertas yang akan kita ukir dengan dengan warna tinta yang kita torehkan. Kita lah yang akan membangun mereka menjDi generasi yang berakhlaq dan ber-totalitas dalam keislamannya.
Jab, Izza sengaja mengirim buku ”Pilar PenDiDikan Anak”( dan buku2 yg lain J) Dibaca yaa....bagaimana kita bisa mempunyai generasi yang seperti itu tentu kembali muncul pertanyaan buat Diri. Kita ga akan mungkin menjDikan anak-anak kita generasi yang lebih baik jika keteladanan itu tidak ada pada kita. Bagaimana kita menDiDik anak-anak kita utk bertotalitas dalam ibadahnya jika kita saja tidak.
Dan Jab harapan saya dalam membina sebuah pernikahan adalah pernikahan yang mengembalikan nilai-nilai agama dalam seluruh aspek kehidupan. Dan ini juga yang menjDi pertimbangan saya dalam mempertimbangkan calon adalah bukan karena materi nya, kalo pun ada pertimbangan itu adalah pertimbangan yang tidak mutlak. Sebagaimana hDist menyatakan pilihlah calon istri/suami mu karena 4 hal: karena hartanya, rupanya, nasabnya, agamanya. Sebaik-baik pilihan adalah karena agamanya karena hanya membawa kebaikan dunia akhirat sedang yang lain tidak kekal. Dan pertimbangan kafaah agama ini jg, dengan berjalannya waktu banyak pelajaran dan saya menyadari ada sesuatu yang tidak bisa sesuai keinginan saya, tidak ada yang instant mungkin, mengharapkan seseorang yang telah ”JADIi” mungkin sesuatu yang sulit dan jodoh hanya kuasa Allah semata qhaib bagi kita manusia. Jika saja jodoh saya adalah Dia, sungguh yang saya harap sekarang adalah kemauan Dia untuk berproses bersama dengan saya memperbaiki Diri, menata Diri. MenghDirkan kesadaran hakiki tentang arti dan utk apa kita berada Di dunia selain beribadah, esensi dari setiap usaha dan perbuatan Di dunia adalah ibadah, sehingga kesadaran itu terpatri rapat Di hatinya, menggerakkan segenap hati dan kemauannya untuk menegakkan ibadahnya kepada Allah, menjaga ketaqwaannya, menggerakkan keluarganya, membimbing istri dan anak-anaknya dalam keterjagaan ruhiyah, bersama-sama menghias Diri dengan ketinggian akhlaq.
Semuanya adalah tidak mudah, butuh perjuangan dengan kesadaran yang terus menerus harus diperbaharui dan bukan berarti dengan semua statement Di atas, saya telah mencapai itu semua, sungguh saya masih jauh hanya saja ini yang menjDi visi saya dalam hidup saya ke depan. Setiap kita adalah lemah dan bersifat lalai, Disana lah peran amar makruf nahyi mungkar, saling mengingatkan dalam kebaikan dan bersabar. Dan dalam rumah tangga pilar utamanya adalah ibu dan ayah yang akan saling menguatkan, saling mengingatkan, saling menasehati dengan kebaikan, saling memberi-menerima. Suami adalah pakaian bagi istrinya dan juga sebaliknya, fungsinya menjaganya, melindungi, melengkapi dan memberi ketentraman dan kenyamanan. Suami adalah qowwan bagi anak dan istrinya. Qowwan adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan Diminta pertanggungjawaban atas yang Dipimpinnya. ”Dan jaga lah anak dan istri mu dari api neraka”, ini pekerjaan rumah bagi kita nantinya jika telah berkeluarga.
Dalam membentuk rumah tangga perlu kesamaan visi, ibarat membawa kapal berlayar, bagaimana mungkin tujuan berbeda berada dalam satu kapal. Perlu kesamaan cita2, ini lah yang menjDi cita-cita saya. Terlepas dari apapun adanya konDisi kita sekarang yang penting kesadaran dan kemauan hakiki untuk berubah. Komitmen perubahan ini pun tidak bisa Dimintakan jaminannya hanya semata-mata kepercayaan dan keyakinan pada pribDi itu lah yang jDi pegangan, dan ini pun serapuh-rapuhnya pegangan. Dengan tidak lupa selalu berdoa untuk sebuah kesadaran hati dan hidayah allah selalu menuntun hati kita karena hanya Allah lah yang membolak balikan hati.
Jab mohon Di pikirkan apa yang saya sampaikan ini, sungguh ini cita2 saya, sungguh Disisa perjalanan waktu saya, saya inginkan untuk seperti ini. Saya butuh suami penguat saya, energi saya untuk mewujudkannya. Jika cita-cita ini bisa menjDi cita-cita Jap juga insya 4JJI mudah2an 4JJI meneguhkan perjalanan kita. Sungguh hanya 4JJI yang tau yang terbaik buat kita, dan laki2 yang baik adalah untuk perempuan yang baik dan sebaliknya dan ukuran kebaikan itu hanya 4JJI yang tau. Dan pr adalah bagian tulang rusuknya laki2, saling menguatkan, dan saling melengkapi, dan bekerja sama.
Dan satu lagi untuk pertimbangan Jab, saya hanya perempuan biasa sangat biasa, 4JJI tidak menitipkan amanah kebagusan luar untuk saya, mungkin bagi laki-laki ini menjDi standard. Yang saya harapkan setelah menikah kemampuan kita hanya melihat pasangan kita menjDi yang org yg paling tepat untuk kita dengan segala minus dan plus nya Dia. Dan sesuai fitrahnya sangat penting bagi laki-laki untuk menikahi perempuan yang segenap hati telah Di pilihnya, karena sepenuh hati Dia akan menjaganya dan tidak menyia-nyiakan.
Hmm ..mudah2an hati kita diteguhkan dengan pilihan dan keputusan ini.
Sekian dlu hehe ntr panjang lebar dan puyeng bacanya...........btw mohon maap jika ada kata2 Diatas yang tidak pada tempatnya, tidak ada maksud menggurui apa lagi mengedepankan Diri. Hanya pada Allah kita mohon atas segala salah dan mudah2an Allah mennyampaikan cita2 ini.
Wassalam,
Izza/Wila
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Sekedar ingin berbagi apa yang menjDi harapan dan cita-cita hidup Izza......yg menjDi harapan dalam perjalanan hari kedepan terutama perjalanan pernikahan jika Allah mengijinkan. Tanpa maksud menampilkan Diri, semata-mata ini (insya allah) yang menjDi harapan dan visi hidup dan hanya Allah yang memegang hati kita.
Dulu ada pertanyaan menggelitik sekali bagi saya yang Ditanyakan Disebuah majelis, kira2 begini:
Jika kita melukiskan umat islam itu ibarat lingkaran besar yang berpusar (kira2 kayak papan panahan) kemuDian tiap lingkaran itu menggambarkan konDisi umat sesuai kafaah(kualitas) keberagamaannya atau kafaah(kualitas) keberislaman Dia, lingkaran terluar itu adalah org islam yang tidak mengenal islam, perumpamaan ini lah konDisi umat yang ibarat buih Di air, banyak tapi ga punya massa, ga punya kekuatan, seterusnya dari lingkaran terluar menggambarkan kualitas yang dangkal sampai bentukan lingkaran terdalam yang berupa titik, nah titik ini lah mungkin gambaran org islam yang berislam dengan totalitas. Pertanyaan yang menyudutkan DIMANAKAH POSISI ANDA??
Dari sini banyak evaluasi ke Diri saya, dengan waktu yang telah terlewati sampai Dititik sekarang berada, sudah demikian jauh perjalanan umur, apa yang telah saya perbuat?? Untuk apa dan kemana waktu telah saya habiskan?? Bagaimana dengan amalan? ibadah??. Berapa banyak salah dan khilaf, kelalaian dan kemalasan yang melenakan kita. Apa yang menjDi prioritas waktu saya?? Apa yang menjDi target hidup saya? Apa saya punya target utk akhirat/ukhrawi saya?? Apa saya pernah punya prioritas waktu untuk akhirat saya/ untuk ibadah saya??
Sungguh banyak hal yang mesti kita benahi dalam hidup, kekurangan di masa lalu mgkin tak bisa kita perbaiki selain hanya bertaubat dan dari waktu ke waktu belajar memperbaiki Diri, menata Diri. Untuk masa depan adalah menjDi tanggung jawab kita utk mengukir nya menjDi apa. Dan untuk perjalanan waktu ke depan, sebagian besar waktu hidup kita akan kita habiskan dalam sebuah pernikahan, dan amalan juga dosa dan kesalahan akan terukir Disini. sungguh sangat penting untuk merencanakan sebuah pernikahan yang berlandaskan pada cita-cita ukhrawi ini. Harapan saya, generasi yang lahir dari pernikahan saya, generasi anak2 saya adalah generasi yang lebih baik dari saya. Jika orang tua membesarkan kita dengan ke-awaman religi mereka, sudah menjDi keharusan bagi kita, generasi anak-anak kita mendapatkan yang lebih dari kita dapatkan. Meniatkan pernikahan sebagai ibadah, menjDikan pernikahan sebagai lahan yang kita ukir dengan nilai-nilai religi. Anak-anak kita adalah kertas yang akan kita ukir dengan dengan warna tinta yang kita torehkan. Kita lah yang akan membangun mereka menjDi generasi yang berakhlaq dan ber-totalitas dalam keislamannya.
Jab, Izza sengaja mengirim buku ”Pilar PenDiDikan Anak”( dan buku2 yg lain J) Dibaca yaa....bagaimana kita bisa mempunyai generasi yang seperti itu tentu kembali muncul pertanyaan buat Diri. Kita ga akan mungkin menjDikan anak-anak kita generasi yang lebih baik jika keteladanan itu tidak ada pada kita. Bagaimana kita menDiDik anak-anak kita utk bertotalitas dalam ibadahnya jika kita saja tidak.
Dan Jab harapan saya dalam membina sebuah pernikahan adalah pernikahan yang mengembalikan nilai-nilai agama dalam seluruh aspek kehidupan. Dan ini juga yang menjDi pertimbangan saya dalam mempertimbangkan calon adalah bukan karena materi nya, kalo pun ada pertimbangan itu adalah pertimbangan yang tidak mutlak. Sebagaimana hDist menyatakan pilihlah calon istri/suami mu karena 4 hal: karena hartanya, rupanya, nasabnya, agamanya. Sebaik-baik pilihan adalah karena agamanya karena hanya membawa kebaikan dunia akhirat sedang yang lain tidak kekal. Dan pertimbangan kafaah agama ini jg, dengan berjalannya waktu banyak pelajaran dan saya menyadari ada sesuatu yang tidak bisa sesuai keinginan saya, tidak ada yang instant mungkin, mengharapkan seseorang yang telah ”JADIi” mungkin sesuatu yang sulit dan jodoh hanya kuasa Allah semata qhaib bagi kita manusia. Jika saja jodoh saya adalah Dia, sungguh yang saya harap sekarang adalah kemauan Dia untuk berproses bersama dengan saya memperbaiki Diri, menata Diri. MenghDirkan kesadaran hakiki tentang arti dan utk apa kita berada Di dunia selain beribadah, esensi dari setiap usaha dan perbuatan Di dunia adalah ibadah, sehingga kesadaran itu terpatri rapat Di hatinya, menggerakkan segenap hati dan kemauannya untuk menegakkan ibadahnya kepada Allah, menjaga ketaqwaannya, menggerakkan keluarganya, membimbing istri dan anak-anaknya dalam keterjagaan ruhiyah, bersama-sama menghias Diri dengan ketinggian akhlaq.
Semuanya adalah tidak mudah, butuh perjuangan dengan kesadaran yang terus menerus harus diperbaharui dan bukan berarti dengan semua statement Di atas, saya telah mencapai itu semua, sungguh saya masih jauh hanya saja ini yang menjDi visi saya dalam hidup saya ke depan. Setiap kita adalah lemah dan bersifat lalai, Disana lah peran amar makruf nahyi mungkar, saling mengingatkan dalam kebaikan dan bersabar. Dan dalam rumah tangga pilar utamanya adalah ibu dan ayah yang akan saling menguatkan, saling mengingatkan, saling menasehati dengan kebaikan, saling memberi-menerima. Suami adalah pakaian bagi istrinya dan juga sebaliknya, fungsinya menjaganya, melindungi, melengkapi dan memberi ketentraman dan kenyamanan. Suami adalah qowwan bagi anak dan istrinya. Qowwan adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan Diminta pertanggungjawaban atas yang Dipimpinnya. ”Dan jaga lah anak dan istri mu dari api neraka”, ini pekerjaan rumah bagi kita nantinya jika telah berkeluarga.
Dalam membentuk rumah tangga perlu kesamaan visi, ibarat membawa kapal berlayar, bagaimana mungkin tujuan berbeda berada dalam satu kapal. Perlu kesamaan cita2, ini lah yang menjDi cita-cita saya. Terlepas dari apapun adanya konDisi kita sekarang yang penting kesadaran dan kemauan hakiki untuk berubah. Komitmen perubahan ini pun tidak bisa Dimintakan jaminannya hanya semata-mata kepercayaan dan keyakinan pada pribDi itu lah yang jDi pegangan, dan ini pun serapuh-rapuhnya pegangan. Dengan tidak lupa selalu berdoa untuk sebuah kesadaran hati dan hidayah allah selalu menuntun hati kita karena hanya Allah lah yang membolak balikan hati.
Jab mohon Di pikirkan apa yang saya sampaikan ini, sungguh ini cita2 saya, sungguh Disisa perjalanan waktu saya, saya inginkan untuk seperti ini. Saya butuh suami penguat saya, energi saya untuk mewujudkannya. Jika cita-cita ini bisa menjDi cita-cita Jap juga insya 4JJI mudah2an 4JJI meneguhkan perjalanan kita. Sungguh hanya 4JJI yang tau yang terbaik buat kita, dan laki2 yang baik adalah untuk perempuan yang baik dan sebaliknya dan ukuran kebaikan itu hanya 4JJI yang tau. Dan pr adalah bagian tulang rusuknya laki2, saling menguatkan, dan saling melengkapi, dan bekerja sama.
Dan satu lagi untuk pertimbangan Jab, saya hanya perempuan biasa sangat biasa, 4JJI tidak menitipkan amanah kebagusan luar untuk saya, mungkin bagi laki-laki ini menjDi standard. Yang saya harapkan setelah menikah kemampuan kita hanya melihat pasangan kita menjDi yang org yg paling tepat untuk kita dengan segala minus dan plus nya Dia. Dan sesuai fitrahnya sangat penting bagi laki-laki untuk menikahi perempuan yang segenap hati telah Di pilihnya, karena sepenuh hati Dia akan menjaganya dan tidak menyia-nyiakan.
Hmm ..mudah2an hati kita diteguhkan dengan pilihan dan keputusan ini.
Sekian dlu hehe ntr panjang lebar dan puyeng bacanya...........btw mohon maap jika ada kata2 Diatas yang tidak pada tempatnya, tidak ada maksud menggurui apa lagi mengedepankan Diri. Hanya pada Allah kita mohon atas segala salah dan mudah2an Allah mennyampaikan cita2 ini.
Wassalam,
Izza/Wila
Tidak ada komentar:
Posting Komentar